Sukabumi, Mipanews – Pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Paud Al-Amaliyah selama empat hari, Rabu hingga Sabtu, memunculkan tanda tanya terkait efektivitas anggaran. Pasalnya, biaya paket yang disajikan disebut melampaui alokasi anggaran harian yang telah ditetapkan.
Dalam periode tersebut, siswa menerima paket makanan ringan berupa empat roti, satu kaleng susu full cream 946 ml, serta satu buah jeruk. Menu ini dibagikan untuk jatah MBG 4 hari.
Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya membenarkan hal itu.
“Dari hari Rabu sampai Sabtu anak saya dapat 1 susu ukuran 946 ml, 4 roti dan 1 jeruk,” ujarnya.
Di sisi lain, mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memaparkan rincian biaya untuk paket porsi kecil: susu Rp22.000, roti tiga buah Rp7.500, kue pia Rp2.000, dan jeruk Rp2.000. Total pengeluaran disebut mencapai Rp33.500, dinilai melebihi target anggaran.
Angka tersebut kontras dengan alokasi anggaran yang ditetapkan sebesar Rp8.000 per hari untuk porsi kecil. Jika dihitung secara akumulatif selama empat hari, anggaran resmi hanya Rp32.000. Namun, biaya yang disebut dikeluarkan justru melampaui batas tersebut.
Pihak mitra berdalih menu yang disajikan “overload”. Namun pernyataan itu justru menimbulkan pertanyaan baru: mengapa penyusunan menu tidak disesuaikan dengan pagu anggaran sejak awal? Apakah terjadi perencanaan yang kurang matang, atau ada komponen biaya yang belum dijelaskan secara transparan?
Program MBG sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi anak usia dini. Namun tanpa pengelolaan anggaran yang akurat dan terbuka, pelaksanaan di lapangan berpotensi memunculkan polemik baru. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci agar program gizi tidak sekadar baik secara konsep, tetapi juga tepat dalam implementasi.
Redaksi












