Sukabumi, Mipanews – Kondisi jalan kabupaten yang menghubungkan wilayah Jampangkulon, Cimanggu, Kalibunder hingga Sagaranten kembali menuai keluhan keras dari masyarakat. Jalan yang menjadi akses penting bagi warga di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi itu dinilai semakin hari semakin rusak parah.
Keluhan masyarakat hampir selalu sama setiap kali melintasi jalur tersebut. Bukannya semakin baik dari waktu ke waktu, kondisi jalan justru dinilai semakin amburadul sejak masa kepemimpinan bupati sebelumnya hingga saat ini.
“Setiap orang yang lewat pasti membicarakan jalan ini. Tapi bukan keberhasilannya, justru keburukannya,” ujar salah seorang warga yang sering melintasi jalur tersebut.
Hasil pengamatan pewarta mipa di lapangan menunjukkan kondisi jalan yang tidak hanya rusak, tetapi juga terasa semakin sempit. Kerusakan jalan diperparah oleh keberadaan saluran kabel yang tidak tertata serta tiang jaringan internet atau wifi dari berbagai perusahaan yang dipasang sembarangan di bahu jalan.
Keberadaan tiang-tiang tersebut bahkan dinilai mempersempit badan jalan dan berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Warga pun mempertanyakan perhatian pemerintah daerah terhadap kondisi infrastruktur tersebut.
“Apakah para pemangku kebijakan sudah tidak melihat atau tidak mendengar jeritan masyarakat?” ungkap salah seorang tokoh masyarakat dengan nada kecewa.
Menurutnya, jika alasan keterbatasan APBD Kabupaten Sukabumi menjadi kendala perbaikan jalan, pemerintah seharusnya lebih selektif dalam mengalokasikan anggaran.
Ia menilai anggaran hibah yang selama ini digelontorkan ke berbagai instansi seharusnya bisa dikaji ulang, karena diduga tidak semuanya tepat sasaran.
Selain itu, masyarakat juga meminta Satpol PP di tingkat kecamatan untuk lebih aktif menertibkan pemasangan tiang jaringan internet yang dipasang tanpa penataan yang jelas.
Sementara itu, sejumlah aktivis LSM di wilayah tersebut juga turut menyoroti kinerja aparatur pemerintah daerah. Mereka menilai sebagian aparatur negara kurang menunjukkan keseriusan dalam menangani persoalan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat.
“Bukannya fokus memikirkan rakyat, ada yang hanya datang, absen, lalu duduk di kantor tanpa kegiatan jelas,” ujar salah satu aktivis.
Ia juga mencontohkan kondisi jalan di wilayah Cijaksa yang baru saja selesai diperbaiki, namun kini sudah kembali rusak.
“Padahal anggaran yang digunakan tidak sedikit. Kalau kualitas pekerjaannya seperti ini, sama saja hanya menghabiskan anggaran,” pungkasnya.
Rian Hidayat












