Sukabumi, Mipanews – Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, turun langsung meninjau sejumlah lokasi terdampak bencana angin kencang dan cuaca ekstrem di Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (3/10/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cicurug, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), serta Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sukabumi guna memastikan penanganan pascabencana berjalan optimal.
Peninjauan dipusatkan di sejumlah titik terdampak, termasuk SMP Negeri 2 Cicurug, yang mengalami kerusakan akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut pada Rabu (30/9/2026).
“Hari ini saya bersama Forkopimcam, Pak Camat, Kapolsek, Danramil, BPBD, Disperkim dan Dinsos turun langsung melihat kondisi warga terdampak serta memastikan penanganan berjalan dengan baik,” ujar Andreas.
Menurut Andreas, sejak hari pertama kejadian, Camat Cicurug bersama Forkopimcam dan BPBD telah melakukan pengecekan serta pendataan awal. Kunjungan kali ini bertujuan untuk memastikan kondisi terkini masyarakat dan fasilitas yang terdampak.
Berdasarkan data sementara, bencana angin kencang dan cuaca ekstrem berdampak pada 108 warga yang tersebar di tiga desa, yakni Desa Mekarsari, Purwasari, dan Nyangkowek.
“Totalnya sekitar 108 warga terdampak. Tingkat kerusakannya bervariasi, mulai dari ringan, sedang hingga berat, namun mayoritas berada pada kategori ringan dan sedang,” jelasnya.
Meski demikian, Andreas memastikan kondisi masyarakat terdampak dalam keadaan aman dan sebagian besar sudah kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Saya juga sudah berbincang langsung dengan warga dan mereka sudah mulai beraktivitas seperti biasa,” katanya.
Pemkab Salurkan Bantuan
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui BPBD dan Dinsos turut menyalurkan bantuan kepada warga terdampak berupa paket sembako, genteng metal, serta material bangunan seperti baja ringan.
Andreas berharap bantuan tersebut dapat membantu mempercepat proses perbaikan rumah-rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana.
“Bencana adalah tanggung jawab bersama. Mudah-mudahan bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat dan menjadi amal ibadah bagi kita semua,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penanganan pascabencana dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak berdasarkan hasil pendataan dan asesmen di lapangan.
Warga Diminta Waspada
Memasuki musim penghujan, Andreas mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah yang memiliki kontur tanah miring serta sistem drainase yang kurang optimal.
“Karena sekarang sudah memasuki musim hujan, masyarakat harus lebih waspada terhadap kondisi lingkungan, saluran air, serta daerah yang rawan longsor atau terdampak angin kencang,” ungkapnya.
Mekarsari Paling Banyak Terdampak
Data Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Cicurug menunjukkan bahwa Desa Mekarsari menjadi salah satu wilayah dengan dampak cukup signifikan. Sebanyak 54 rumah warga mengalami kerusakan akibat hujan deras yang disertai angin kencang.
Kerusakan tersebar di sejumlah kampung, di antaranya Kampung Caringin, Leuwi Peucang, Legos, Cicewol, Pasir Dalem, hingga Perumahan Mekarsari 2. Selain rumah warga, atap Mushola Al Hidayah juga dilaporkan mengalami kerusakan.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.
Purwasari: 48 Rumah dan Fasilitas Pendidikan Terdampak
Sementara itu di Desa Purwasari, sebanyak 48 rumah warga terdampak cuaca ekstrem.
Selain permukiman, sejumlah fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan. Di SMAN 1 Cicurug, pohon beringin berukuran besar tumbang dan menimpa bagian depan sekolah serta kendaraan yang berada di sekitar lokasi.
Laporan Damkar Posko III Cicurug mencatat sebanyak 12 kendaraan terdampak, terdiri dari dua mobil dan sepuluh sepeda motor.
Sedangkan di SMPN 2 Cicurug, angin kencang disertai hujan es menyebabkan atap baja ringan bangunan olahraga sekolah terbang hingga sekitar 100 meter.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Deden Sumpena, menyebut kerusakan di sekolah tersebut masih tergolong ringan dan terjadi pada beberapa ruang kelas, laboratorium, musala, UKS, ruang OSIS, serta fasilitas pendukung lainnya.
Nyangkowek: Pohon Tumbang Timpa Sekolah
Di Desa Nyangkowek, cuaca ekstrem menyebabkan satu pohon tumbang di lingkungan SMK Eka Prasetya, Kampung Caringin RT 02 RW 04.
Pohon tersebut menimpa bagian tembok samping sekolah dan area auning, sementara beberapa lembar asbes sekolah juga dilaporkan berterbangan akibat terpaan angin kencang.
Petugas P2BK Cicurug, M. Abdul Rizki, mengatakan seluruh unsur terkait bergerak cepat melakukan asesmen dan penanganan di lokasi kejadian.
“Kami berkoordinasi bersama perangkat desa, Tagana, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satpol PP, relawan, dan masyarakat untuk melakukan assessment serta penanganan di lapangan,” ujarnya.
Rangkaian bencana yang terjadi pada 30 September 2026 tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berpotensi terjadi selama musim penghujan berlangsung.
Redaksi












